Search

The King’s Speech


Sebuah film dengan latar belakang cerita mengenai keluarga kerajaan Inggris, ditata dengan tata artistik yang sangat rapi dan begitu memikat, tata sinematografi yang begitu indah, tata kostum yang tak kalah menariknya, tata musik yang mengisi jiwa di setiap adegannya dan, tentu saja, deretan aktor dan aktris Inggris yang mampu menghidupkan setiap karakternya. Tanpa cela. Namun, deretan keberhasilan tersebut telah mampu dicapai banyak film sebelumnya. Apa yang membuat The King’s Speech begitu istimewa? Bukan. Bukan karena film ini memasukkan Inggris dimasa-masa menjelang Perang Dunia II atau karena film ini bercerita mengenai bagaimana cara King George VI menghadapi kesulitannya dalam berbicara. Bagian tersebut memang sangat menarik, namun tak ada faktor yang membuat The King’s Speech tampil begitu mempesona selain dari kisah persahabatan yang terbentuk antara King George VI dan terapisnya, Lionel Logue, yang akan mampu menyentuh siapapun yang menyaksikannya.

Kunci keberhasilan hubungan kedua karakter tersebut berada di tangan kedua aktor yang memerankannya, Colin Firth dan Geoffrey Rush. Selain keduanya, The King’s Speech juga diperkuat dengan penampilan aktris Helena Bonham Carter, yang berperan sebagai Queen Elizabeth. Ketiganya tampil begitu memukau dalam mengisi setiap peran yang mereka perankan. Tak ada satupun momen dalam departemen akting The King’s Speech yang terlihat mengecewakan. Hal ini yang kemudian turut memberikan dorongan chemistry yang kuat antara seluruh jajaran pemeran film ini dan berhasil membuat jalan cerita The King’s Speech terasa begitu nyata dan mengikat.

Berdasarkan kisah nyata, tentu saja, The King’s Speech dimulai pada tahun 1925 dan memperkenalkan penontonnya pada pria yang nantinya akan dikenal sebagai King George VI (Colin Firth). Saat itu, ia dikenal sebagai Albert Frederick Arthur George atau Prince Albert atau the Duke of York atau Bertie dan akan menyampaikan pidato pertamanya di hadapan umum. Terlihat tidak percaya diri, kegagapannya dalam berbicara kemudian membuat penyampaian pidato tersebut berubah menjadi suatu hal yang memalukan baginya. Sadar bahwa hal tersebut tidak akan menjadi kali terakhir bagi Albert untuk memberikan pidato di depan khalayak ramai, istrinya, Elizabeth Bowes-Lyon (Helena Bonham Carter), kemudian mendatangi Lionel Logue (Geoffrey Rush), seorang terapis pidato asal Australia yang memiliki teknik yang sangat tidak biasa.

Dengan teknik-teknik yang terkadang sangat aneh untuk dilakukan, hubungan Albert dan Lionel berjalan tidak mulus pada awalnya. Namun, ketika ayahnya, King George V (Michael Gambon), meninggal dunia, dan kakaknya, Prince Edward VII (Guy Pearce), yang seharusnya menggantikan ayahnya tersandung sebuah kontroversi, Albert harus bersiap untuk naik tahta. Albert akhirnya menjalankan seluruh teknik yang diharuskan Lionel, sekaligus, secara perlahan, menjalin hubungan persahabatan dengan dirinya. Setelah resmi naik tahta dan menjadi King George VI, ujian besar pertamanya dalam memberikan sebuah pidato di depan khalayak ramai datang dalam bentuk yang nantinya akan diingat masyarakat Inggris sebagai sebuah pidato yang mampu menyatukan negara tersebut dalam mendeklarasikan perang kepada Jerman.

Merupakan peran pertama setelah perannya yang sangat menyentuh – dan seharusnya memenangkan Academy Awards – dalam A Single Man, Colin Firth membuktikan statusnya sebagai salah satu aktor Inggris terbaik yang ada saat ini. Lihat bagaimana Firth mampu mengeluarkan rasa frustasi dan hasrat yang tinggi untuk menyingkirkan kegagapannya lewat tatapan mata Firth yang seringkali ditampilkan sutradara Tom Hooper lewat potongan-potongan adegan close-up di sepanjang film ini. Begitu mengena dan begitu mampu untuk menampilkan setiap emosi yang ingin dikeluarkan Firth sebagai seorang King George VI yang sedang tertekan. Tak melulu bermain dalam wilayah drama, Firth juga mampu mengeluarkan sisi komedinya dalam menampilkan King George VI yang sedang berada dalam keadaan emosi yang meledak-ledak. Walau mungkin sama sekali tidak bermaksud untuk melucu, namun momen-momen tersebut mampu memberikan hiburan tersendiri bagi jalan cerita film ini.

Penampilan tak kalah hebatnya juga mampu ditampilkan Geoffrey Rush dan Helena Bonham Carter. Rush mampu menandingi kemampuan akting Firth dengan sangat baik, dan bahkan mampu berpadu dengan sempurna dengannya. Begitu berpadunya chemistry kedua aktor ini, The King’s Speech hampir terasa berjalan pincang ketika satu karakter sedang tidak berada di samping karakter lainnya. Begitu juga dengan Bonham Carter yang mampu menampilkan akting yang sangat menyegarkan setelah menyelimuti dirinya dengan peran-peran eksentrik di tiap film karya Tim Burton atau franchise Harry Potter. Bonham Carter mampu menampilkan Elizabeth bukan sebagai seorang karakter yang datar dan kaku, seperti penggambaran para ratu di banyak film-film bertema sama lainnya. Sebaliknya, ia mengisi karakter tersebut sebagai seorang karakter yang hangat, ringan dan terlihat mudah untuk didekati.

Peran pendukung film ini diisi dengan banyak nama aktor dan aktris Inggris (dan Australia) dengan kemampuan akting yang sama sekali tidak dapat dipandang sebelah mata. Yang paling menonjol tentu saja kehadiran aktor Timothy Spall dan Guy Pearce yang berperan sebagai Winston Churchill serta Prince Edward. Spall mampu membuat setiap kehadirannya di jalan cerita menjadi begitu terasa, sementara Pearce, walaupun dengan porsi peran yang kurang begitu mendalam untuk dihadirkan, tetap mampu menampilkan sebuah permainan yang cukup memuaskan.

Tidak hanya mampu mengemas departemen akting filmnya dengan sempurna, sutradara, Tom Hooper (The Damned United, 2009), juga memagari film ini dengan berbagai keberhasilan tata teknis yang akan mampu untuk menyegarkan setiap mata dan telinga penontonnya. Sinematografer, Danny Cohen, berhasil menghasilkan berbagai gambar-gambar yang sangat indah di sepanjang film, khususnya ketika jalan cerita sedang mengambil latar belakang waktu pagi. Cohen mampu menangkap energi pagi tersebut dengan baik di tiap gambarnya. Kualitas yang sama juga berhasil dibawakan komposer Alexandre Desplat, yang walaupun tidak terasa begitu istimewa, namun tetap berhasil membawakan aliran emosi tambahan yang sempurna bagi tiap adegan film ini.

Di tengah-tengah kompetisi film yang menawarkan sesuatu yang baru di dalam jalan ceritanya, The King’s Speech hadir dengan sebuah jalan cerita yang begitu terasa konvensional dan sedikit mudah ditebak. Namun, dengan arahan yang luar biasa dari Tom Hooper dan naskah cerita yang begitu cerdas dari David Seidler, naskah yang terasa konvensional tersebut berhasil dirangkai menjadi jalan cerita yang tampil sangat memikat. Memperkuat ceritanya dengan departemen akting yang begitu hidup serta tata teknis yang hadir tanpa cela, The King’s Speech adalah salah satu film yang akan banyak dibicarakan karena kesederhanaannya yang begitu inspiratif dan sangat emosional.

No comments: